MAKNA NYEPI BAGI KEHIDUPAN
Makna Nyepi Bagi Kehidupan
Jumat, 11 Pebruari 2011
Om Swasti Astu
Om Awignam Astu Nama Sidham
Bapak , ibu, umat sedharma yang sama berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur dan rasa sukseme yang tak terhingga ke hadapan Ide Sang Hyang Widi Wase karena atas perkenan_NYA kita semua dapat hadir dalam persembahyangan hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933 ini.
Bapak , ibu, umat sedharma sene subaktinin titiang, sebelum jauh pembicaraan kita titiang ingin mengajak bapak, ibu dan saudara semua untuk sejenak merenung dan intropeksi ke dalam diri kita masing-masing, sejauh mana aplikasi dari makna Hari Raya Nyepi ini. Nah pada kesempatan yang amat berbahagia ini marilah kita sama-sama mengkaji makna perayaan Hari Raya Nyepi.
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, Tahun baru çaka mulai diresmikan pada penobatan raja Kaniskha dan dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi. Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kedasa (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra).
Bapak, Ibu dan saudara Sedharma yang berbahagia,
Perayaan tahun baru caka tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan diistirahatkan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Hakekat perayaan Hari Raya Nyepi adalah Penyucian bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (dunia pada diri kita masing-masing) atau (makrokosmos dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).
Sebelum perayaan Hari Raya Nyepi pada puncaknya, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, rangkaian upacara tersebut telah bapak ibu laksanakan diantaranya adalah :
1. Melasti.
Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Bagi pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.
2. Tawur.
Upacara tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala maupun niskala. Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya Nyepi.
Yang berikut adalah Catatan bahwa:Ketentuan upakara atau sesajen melasti dan tawur di atas melengkapi ketetapan- ketetapan pelaksanaan Nyepi terdahulu, yang disesuaikan dengan desa, kala, patra, (daerah/ tempat, waktu, dan keadaan).
3. Hari raya Nyepi.
Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi maka umat Hindu wajib melaksanakan catur brata Penyepian yaitu :
1) Amati Geni yaitu tidak menyalakan api secara lahir (tidak merokok, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan lampu, dll) dan secara batin dimaksudkan untuk mengekang dan mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif seperti mematikan api amarah dan api asmara.
2) Amati Karya yaitu tidak bekerja secara lahir dan secara batin menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung/mawas diri.
3) Amati Lelungan yaitu tidak bepergian karena semua orang melakukan Tapa Brata Penyepian dan seyogyanya kita tidak menganggu ketenangan orang lain.
4) Amati Lelanguan yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi dan bersenang-senang.Semua umat Hindu harus merenung dan mawas diri.
4. Ngembak Geni.
Hari Ngembak Geni jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma santi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Lingkungan keluarga.
Dharma Santi dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam keluarga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan terbinanya kerukunan dan perdamaian. Pelaksanaan dharma santi ini dapat dilaksanakan pada hari Ngembak Geni dan beberapa hari sesudah itu.
Masyarakat.
Dharma santi dengan lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan: Dharma wacana, dharma gita (lagu- lagu keagamaan/ kidung, kekawin, pembacaan sloka, dharma tula (diskusi) persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan "punia" kepada yang patut menerimanya,
Bapak Ibu dan saudara sedharma, demikianlah dharma Wacana yang dapat titian berikan jika ada kekurangannya dan perkataan yang kurang berkenan mohon di maafkan. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, memalui kesempatan ini titian mengucapkan SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU CAKA 1933 mohon maaf lahir dan batin. Akhir kata titian mengucapkan sukseme dan parame santhi
OM SANTHI SANTHI SANTHI OM
Jumat, 11 Pebruari 2011
Om Swasti Astu
Om Awignam Astu Nama Sidham
Bapak , ibu, umat sedharma yang sama berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur dan rasa sukseme yang tak terhingga ke hadapan Ide Sang Hyang Widi Wase karena atas perkenan_NYA kita semua dapat hadir dalam persembahyangan hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1933 ini.
Bapak , ibu, umat sedharma sene subaktinin titiang, sebelum jauh pembicaraan kita titiang ingin mengajak bapak, ibu dan saudara semua untuk sejenak merenung dan intropeksi ke dalam diri kita masing-masing, sejauh mana aplikasi dari makna Hari Raya Nyepi ini. Nah pada kesempatan yang amat berbahagia ini marilah kita sama-sama mengkaji makna perayaan Hari Raya Nyepi.
Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan / kalender Saka, Tahun baru çaka mulai diresmikan pada penobatan raja Kaniskha dan dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi. Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kedasa (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra).
Bapak, Ibu dan saudara Sedharma yang berbahagia,
Perayaan tahun baru caka tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa. Semua kegiatan diistirahatkan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Hakekat perayaan Hari Raya Nyepi adalah Penyucian bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (dunia pada diri kita masing-masing) atau (makrokosmos dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).
Sebelum perayaan Hari Raya Nyepi pada puncaknya, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, rangkaian upacara tersebut telah bapak ibu laksanakan diantaranya adalah :
1. Melasti.
Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Bagi pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.
2. Tawur.
Upacara tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala maupun niskala. Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya Nyepi.
Yang berikut adalah Catatan bahwa:Ketentuan upakara atau sesajen melasti dan tawur di atas melengkapi ketetapan- ketetapan pelaksanaan Nyepi terdahulu, yang disesuaikan dengan desa, kala, patra, (daerah/ tempat, waktu, dan keadaan).
3. Hari raya Nyepi.
Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi maka umat Hindu wajib melaksanakan catur brata Penyepian yaitu :
1) Amati Geni yaitu tidak menyalakan api secara lahir (tidak merokok, tidak menyalakan kompor, tidak menyalakan lampu, dll) dan secara batin dimaksudkan untuk mengekang dan mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat negatif seperti mematikan api amarah dan api asmara.
2) Amati Karya yaitu tidak bekerja secara lahir dan secara batin menghentikan kegiatan jasmani dengan merenung/mawas diri.
3) Amati Lelungan yaitu tidak bepergian karena semua orang melakukan Tapa Brata Penyepian dan seyogyanya kita tidak menganggu ketenangan orang lain.
4) Amati Lelanguan yaitu tidak mengadakan hiburan/rekreasi dan bersenang-senang.Semua umat Hindu harus merenung dan mawas diri.
4. Ngembak Geni.
Hari Ngembak Geni jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma santi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Lingkungan keluarga.
Dharma Santi dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam keluarga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan terbinanya kerukunan dan perdamaian. Pelaksanaan dharma santi ini dapat dilaksanakan pada hari Ngembak Geni dan beberapa hari sesudah itu.
Masyarakat.
Dharma santi dengan lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan: Dharma wacana, dharma gita (lagu- lagu keagamaan/ kidung, kekawin, pembacaan sloka, dharma tula (diskusi) persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan "punia" kepada yang patut menerimanya,
Bapak Ibu dan saudara sedharma, demikianlah dharma Wacana yang dapat titian berikan jika ada kekurangannya dan perkataan yang kurang berkenan mohon di maafkan. Tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, memalui kesempatan ini titian mengucapkan SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU CAKA 1933 mohon maaf lahir dan batin. Akhir kata titian mengucapkan sukseme dan parame santhi
OM SANTHI SANTHI SANTHI OM

Komentar
Posting Komentar